Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analisa Spasial Algoritma, Klorofil-a, Biomassa dan Karbon Mangrove

Skripsi Analisa Spasial Algoritma, Klorofil-a, Biomassa dan Karbon Mangrove melalui Data Satelit Sentinel- 2A

 

Agar anda lebih memahami tentang contoh skripsi lengkap Analisa Spasial Algoritma, Klorofil-a, Biomassa dan Karbon Mangrove melalui Data Satelit Sentinel- 2A ini maka kami sarankan anda membaca 

  1. Skripsi lengkap BAB 1
  2. Skripsi lengkap BAB II
  3. Skripsi lengkap BAB III
  4. Skripsi lengkap BAB IV
  5. Skripsi lengkap BAB V

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kawasan mangrove Pulau Cawan yang terletak  Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Menurut Restuhadi et al. (2103) Kabupaten Indragiri Hilir terletak dibagian selatan Provinsi Riau dengan luas wilayah 11.605,97 km². Sebagian besar (93,31%) dari luas wilayah Kabupaten Indragiri Hilir merupakan daerah endapan sungai serta daerah rawa dengan tanah gambut (peat) berupa hutan payau (mangrove)

Secara geografis Pulau Cawan terletak pada posisi 1030 33’18’’ BT dan 0005’59’’LU dan berada pada wilayah administratif desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau (Lubis et al., 2018). Menurut data Badan Pusat Statistik dan BAPPEDA Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2011, Pulau Cawan memiliki luas wilayah sekitar 36,30 Km2. Kondisi lingkungan sekitar Pulau Cawan pada waktu siang hari memiliki suhu rata-rata 28 – 29O C, nilai salinitas berkisar 19 – 21 ppm, pH air 7 dan pH tanah 7.

Potensi luasan mangrove pada Pulau Cawan adalah seluas 1.000 ha dan 60% dari luas tersebut masih menyimpan pohon bakau yang berukuran besar dengan rata-rata hingga diameter 40 cm dan ketinggian pohon dapat mencapai ±20 m (Fadlian et al., 2018). 

Kawasan Mangrove Pulau Cawan merupakan salah satukawasan mangrove terbesar di Provinsi Riau dan telah ditetapkan sebagai kawasan taman hutan rakyat (tahura) oleh Pemerintah Kabupaten Indra giri Hilir. 

Menurut Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir Kawasan Mangrove di Pulau Cawan tergolong dalam kategori cukup baik  dan berpotensi untuk dijadikan kawasan ekowisata. Adapun spesies mangrove yang paling banyak ditemukan di kawasan mangrove Pulau Cawan adalah Rhizopora apiculata dan R. mucronata.

4.2.    Hasil

4.2.1    Komposisi dan Struktur Vegetasi Mangrove di Pulau Cawan

Berdasarkan hasil penelitian pada kawasan mangrove Pulau Cawan, Indragiri Hilir, diketahui bahwa jenis mangrove yang paling mendominasi pada stasiun penelitian adalah jenis Rhizophora apiculata yang memiliki jumlah tertinggi pada setiap stasiun jika dibandingkan dengan 2 jenis mangrove lainnya yaitu Rhizophora mucronata dan Bruguiera gymnorrhiza. Sedangkan jenis mangrove yang cukup banyak ditemukan namun berada diluar stasiun penelitian adalah jenis Lumnitzera racemosa,Nypa fruticans dan Acrostichum aureum, dapat dilihat pada di bawah ini

Spesies Mangrove diPulauCawan, Indragiri Hilir, Riau

 

Stasiun I penelitian hanya terdiri dari satujenis mangrove, yakni R. apiculata, hal tersebut diduga terjadi karena jenis substrat pada stasiun ini cenderung berlumpur halus dan lunak. 

Jenis mangrove B. gymnorrhiza pada lokasi penelitian hanya ditemukan pada stasiun II dan III yang memiliki jenis substrat berlumpur dan berada pada zona yang lebih cenderung kearah darat, sedangkan jenis mangrove R.mucronata hanya ditemukan pada stasiun IV dan V yang memiliki substrat berlumpur cukup dalam dan cenderung lebih keras dan mengandung pasir. 

Deskripsi terhadap vegetasi mangrove dapat dijelaskan melalui data Indeks Nilai Penting (INP) yang tersaji dalam Tabel Indeks Nilai Penting (INP) di bawah ini:

skripsi analisa spasial mangrove

 

Hasil perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) dari tiga spesies mangrove yang ditemukan pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa spesies R. apiculata memiliki nilai INP rata-rata tertinggi dari kelima stasiun penelitian yakni berkisar pada 242,189 – 300, sedangkan nilai INP yang terendah terdapat pada spesies R. mucronata, yakni dengan kisaran 45,797- 57,811 seperti yang tersaji pada Tabel 9. 

Nilai INP spesies R. apiculata yang tinggi pada semua stasiun penelitian menunjukkan bahwa spesies ini memiliki peran yang paling besar terhadap struktur komunitas mangrove di Pulau Cawan, kondisi tersebut diduga karena lokasi penelitian memiliki substrat tanah berlumpur dan tergenang pada saat pasang normal.

Berdasarkan hasil penelitian struktur vegetasi mangrove di Pulau Cawan, diketahui pula nilai kerapatan mangrove yang terdapat pada kawasan tersebut. Kerapatan mangrove dalam hal ini merupakan salah satu indikator dalam penentuan besar kecilnya biomassa mangrove. Adapun nilai kerapatan mangrove tertinggi terdapat pada stasiun I, yakni 690 pohon per hektar, sedangkan nilai kerapatan terendah terdapat pada stasiun II, yakni 390 pohon per hektar, dapat dilihat pada Gambar di bawah ini

Histogram kerapatan mangrove per stasiun penelitian di pulauCawan, Indragiri Hilir, Riau
 

4.2.2  Estimasi klorofil-a, biomassa, karbon dan karbon organik substrat mangrove di Pulau Cawan

4.2.2.1 Klorofil-a mangrove

Hasil pengukuran klorofil-a daun mangrove pada setiap stasiun penelitian memiliki nilai yang selisihnya cukup sedikit pada setiap stasiun. 

Nilai klorofil-a tertinggi terdapat pada stasiun I, yakni sebesar 15,767 mg/ml. Sedangkan nilai klorofil-a terendah terdapat pada stasiun V, yakni sebesar 14,034 mg/ml (Tabel 10). 

Berkaitan dengan hal tersebut, variasi nilai klorofil-a daun dapat terjadi karena adanya perbedaan kondisi dan jenis daun mangrove yang diujikan, dimana pada stasiun I yang memiliki nilai klorofil-a tertinggi merupakan hasil uji dari sampel daun mangrove R. apiculata yang kondisi daunya cukup baik dan muda, kemudian pada stasiun II dan III  sampel daun yang diuji adalah daun mangrove B.gymnorrhiza yang kondisinya juga masih cukup baik dan muda, sedangkan pada stasiun IV dan V sampel daun yang diuji adalah daun mangrove R. mucronata yang kondisinya  juga cukup baik namun cenderung lebih tua dibandingkan sampel daun lainnya.

Hasil pengukuran klorofil-a  mangrove di Pulau Cawan, Indragiri  Hilir, dapat dilihat di bawah ini :

Stasiun                    Klorofil-a  ( mg/ml)

I                                15,767
II                               14,620
III                              14,955
IV                              14,545
V                               14,034

4.2.2.2  Biomassa dan Karbon Mangrove diPulau Cawan 

Hasil analisa data biomassa  dan karbon mangrove diatas permukaan tanah yang merupakan karbon biomassa hidup meliputi bagian batang, cabang dan daun pada setiap spesies yang telah diketahui persamaan alometriknya pada kawasan mangrove Pulau Cawan. 

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa simpanan kandungan biomassa dan karbon tertinggi terdapat pada stasiun IV dengan nilai kandungan biomassa total pohon mencapai 17,92 ton (8,92 ton C), sedangkan nilai kandungan biomassa dan karbon total pohon  terendah terdapat pada stasiun I, yakni sebesar 13,26 ton (6,63 ton C). 

Luas area penelitian pada masing-masing stasiun adalah sebesar 2000 m2 atau sama dengan 0,2 hektar. Selanjutnya, nilai biomassa dan karbon dikonversikan menjadi nilai biomassa dan karbon per hektar sehingga didapatkan hasil nilai biomassa yang tertinggi terdapat pada stasiun IV, yakni sebesar 89,17 ton/ha (44,59 ton C/ha), sedangkan hasil nilai biomassa yang terendah terdapat pada stasiun I, yakni 66,31 ton/ha ( 33,16 ton C/ha). 

Jumlah total biomassa dan karbon vegetasi mangrove Pulau Cawan  pada seluruh stasiun penelitian tersebut  adalah sebesar 381,53 ton/ha dan 190,77 ton C/ha, sedangkan rata-rata biomassa dan karbonmangrove Pulau Cawan per hektar dari seluruh stasiun penelitian tersebut  adalah 76,31 ton/ha  dan 38,15 ton C/ha, dapat dilihat pada Tabe di bawah ini

 

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa nilai kerapatan pohon mangrove tertinggi terdapat pada stasiun I, yaitu 690 ind/ha, sedangkan kerapatan pohon terendah terdapat pada stasiun II, yaitu 390 ind/ha (Tabel 12). Namun, meski demikian stok karbon di lokasi penelitian tidak selalu dipengaruhi oleh nilai kerapatan pohon mangrove. 

Hal tersebut sesuai dengan hasil data lapangan, dimana pada stasiun I yang memiliki nilai kerapatan pohon tertinggi diantara stasiun lainnya, yaitu 690 ind/ha justru memiliki nilai stok karbon yang paling rendah dibandingkan dengan stok karbon pada stasiun lainnya. Sedangkan, pada stasiun II yang nilai kerapatan pohonnya  paling rendah, yaitu 390 ind/ha justru memiliki nilai kandungan mangrove yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kandungan mangrove di stasiun I, yakni sebesar 6,93 ton C (Tabel 12). 

Stok karbon cenderung lebih ditentukan oleh nilai biomassa pohon yang dapat dilihat dari ukuran pohon di lapangan. Sehingga walaupun nilai kerapatan pohon rendah namun pohon yang terdapat pada stasiun tersebut memiliki ukuran yang besar maka biomassa pada stasiun tersebut juga besar dan akan diikuti pula dengan bertambahnya nilai kandungan karbon yang dapat diserap oleh pohon.

 

Demikian Skripsi BAB IV Analisa Spasial Algoritma, Klorofil-a, Biomassa dan Karbon Mangrove, dan untuk BAB yang lain nya silahkan cari di kolom pencarian web pintu dunia ini. Terimakasih atas kunjungan anda.